Ajukan Penundaan Pembangunan Smelter Satu Tahun, Freeport Tunggu Keputusan Kementerian ESDM

PT Freeport Indonesia mengajukan penundaan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) konsentrat tembaga selama satu tahun. Hal ini seiring pandemi Covid-19 yang telah melanda dunia.

Pengajuan penundaan pembangunan smelter tersebut disampaikan secara resmi ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada pekan lalu.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan penundaan waktu pembangunan smelter diajukan lantaran Covid-19 berpengaruh pada kontraktor dan suplier yang berasal dari berbagai negara. Adapun pertimbangan waktu satu tahun penundaan tersebut guna mencermati perkembangan dampak dan waktu pemulihan Covid-19.

“Atas hal itu kita ajukan ke ESDM untuk mendelay progres pembangunan smelter selama satu tahun. Kita lihat perkembangannya selama satu tahun seperti apa. Sampai saat ini (permohonan kami) dikaji pemerintah. Kita tetap menunggu keputusan pemerintah,” kata Tony dalam jumpa media secara virtual di Jakarta, Selasa (28/4).

Tony menjelaskan tahap pembangunan smelter sudah mencapai 4,88% hingga akhir Maret kemarin. Rencananya pada Agustus ini groundbreaking pembangunan smelter dimulai. Namun tertunda seiring dengan pandemi Covid-19.

Pandemi itu membuat pembahasan finalisasi desain rinci (front end engineering design/FEED) terhambat. Pasalnya kontraktor utama pembangunan smelter yakni Ciyoda berasal dari Jepang. Kemudian teknologi
smelter menggunakan Outotec yang berasal dari Finlandia. Selain itu menggandeng konsultan asal Kanada serta sejumlah peralatan didatangkan dari Spanyol dan Italia. Negara-negara tersebut juga terkena dampak Covid-19 yang membuat pembicaraan teknis smelter terganggu. Termasuk project office yang berada di Amerika Serikat.

Dikatakan, nasib pekerja yang membangun smelter tidak terkena dampak dari penundaan ini. Dia menegaskan tidak ada kebijakan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan tersebut. Hanya saja para pekerja akan dialihkan ke penugasan lain.

Lebih lanjut Tony mengungkapkan penundaan pembangunan ini berdampak pada target penyelesaian smelter. Sedianya pembangunan smelter ditargetkan rampung pada 2023.

“Tentunya kami berharap Covid-19 ini segera selesai. (Target smelter selesainya) jadi 2024,” ujarnya.

Smelter Freeport memiliki kapasitas 2 juta ton konsentrat tembaga. Adapun lokasinya berada di kawasan industri Gresik, Jawa Timur ( java Integrated Industrial and Port Estate/JIIPE). Dan wilayah Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo sudah disetujui oleh Menteri Kesehatan untuk diterapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Freeport juga berharap pemerintah memberikan kelonggaran ekspor konsentrat tembaga seiring dengan permohonan penundaan pembangunan smelter. Pasalnya kemajuan smelter merupakan syarat bagi perusahaan tambang untuk bisa mengekspor. Setiap enam bulan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan evaluasi progres smelter. (adm)

Share.