Harga Minyak Anjlok ke USD77 per Barel, Masih Bisa Lebih Murah?

IDXChannel – Harga minyak mentah anjlok sekitar 5% ke level terendah delapan bulan pada hari Jumat waktu New York.

Melansir Reuters, Sabtu (24/9/2022), Brent berjangka turun USD4,31 atau 4,8% menjadi menetap di USD86,15 per barel, turun sekitar 6% untuk minggu ini.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD 4,75 atau 5,7% menjadi menetap di USD78,74, turun sekitar 7% untuk minggu ini.

Ini menjadi penurunan minggu keempat selama berturut-turut untuk kedua tolok ukur minyak dunia itu, yang pertama kali ini terjadi sejak Desember. Keduanya secara teknis berada di wilayah oversold, dengan WTI di jalur untuk penyelesaian terendah sejak 10 Januari dan Brent untuk terendah sejak 14 Januari.

Hari ini, Selasa (27/09), harga minyak mentah Brent berjangka masih bergerak turun menjadi USD 85,06 per barel sedangkan  minyak mentah WTI AS turun menjadi USD77,68, per pukul 15.00 WIB.

Download Aplikasi IDX Channel
8750
226
6025
4470
650
193
0
7150
760
8500
167
3910
296
2400
620
0
100
104
250
0
143
0
50
1700
1375
328
680
286
396
178
Market Watch

Last updated : 2022/09/27Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes

IDX30

537.62

-0.34%
-1.81
IHSG

7112.45

-0.21%
-15.05
LQ45

1015.98

-0.41%
-4.21
HSI

17860.31

0.03%
+5.17
N225

26571.87

0.53%
+140.32
NYSE

0.00

-100%
-13797.00
Kurs

HKD/IDR 1,925
USD/IDR 15,125
Emas

794,741
/ gram
arrow_back
arrow_forward

Harga Minyak Anjlok ke USD77 per Barel, Masih Bisa Lebih Murah?

ECONOMICS

Maulina Ulfa – Riset

Selasa, 27 September 2022 16:30 WIB
Kurs dolar yang tinggi mengurangi permintaan minyak dengan membuat bahan bakar menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Harga Minyak Anjlok ke USD77 per Barel, Masih Bisa Lebih Murah? (Foto: MNC Media)

Harga Minyak Anjlok ke USD77 per Barel, Masih Bisa Lebih Murah? (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Harga minyak mentah anjlok sekitar 5% ke level terendah delapan bulan pada hari Jumat waktu New York.

Melansir Reuters, Sabtu (24/9/2022), Brent berjangka turun USD4,31 atau 4,8% menjadi menetap di USD86,15 per barel, turun sekitar 6% untuk minggu ini.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD 4,75 atau 5,7% menjadi menetap di USD78,74, turun sekitar 7% untuk minggu ini.

Ini menjadi penurunan minggu keempat selama berturut-turut untuk kedua tolok ukur minyak dunia itu, yang pertama kali ini terjadi sejak Desember. Keduanya secara teknis berada di wilayah oversold, dengan WTI di jalur untuk penyelesaian terendah sejak 10 Januari dan Brent untuk terendah sejak 14 Januari.

Hari ini, Selasa (27/09), harga minyak mentah Brent berjangka masih bergerak turun menjadi USD 85,06 per barel sedangkan  minyak mentah WTI AS turun menjadi USD77,68, per pukul 15.00 WIB.

Sumber: Market Insider

Melemahnya harga minyak didorong dolar AS yang mencapai level terkuatnya dalam lebih dari dua dekade dan kenaikan suku bunga yang dikhawatirkan mendorong ekonomi utama ke dalam resesi dan memangkas permintaan minyak.

Selain kondisi ekonomi global yang muram, dampak perang Rusia-Ukraina yang belum mereda juga diproyeksi akan berdampak bagi harga minyak ke depan.

Permintaan Meningkat, Pasokan Masih Mengkhawatirkan

Meski demikian, permintaan akan energi terutama minyak mentah diproyeksikan tidak akan berkurang hingga tahun depan. Dalam laporan OPEC Monthly Oil Market Report, 13 September 2022, pertumbuhan permintaan minyak dunia pada tahun 2022 berada pada level 3,1 juta barel per hari.

Permintaan minyak di negara-negara anggota OECD diperkirakan tumbuh sebesar 1,6 juta barel per hari pada tahun 2022, sementara negara non OECD diperkirakan mencatatkan kenaikan sebesar 1,5 juta barel per hari. Adapun permintaan minyak mentah ini diproyeksi tidak akan berubah pada 2023,

Dibandingkan dengan kuartal yang sama pada tahun 2022, permintaan minyak mentah OPEC pada Q1 2023 dan Q2 2023 diperkirakan akan meningkat masing-masing 0,5 juta barel per hari dan 0,1 juta barel per hari lebih tinggi. Sementara pada Q3 dan Q4 diperkirakan akan lebih tinggi 1,5 juta barel per hari dan 1,6 juta barel per hari.

Produksi dari negara non anggota OPEC juga diproyeksi meningkat mencapai 101,8 juta barel per hari dibanding tahun 2022 yang mencapai 100,03 juta barel.

Di sisi pasokan, pertumbuhan pasokan minyak mentah di negara non-OPEC pada tahun 2022 tidak berubah di level 2,1 juta barel per hari.

Pendorong utama pertumbuhan pasokan ini adalah melimpahnya produksi dari AS, Kanada, China, Brazil dan Guyana. Pada bulan Agustus, produksi minyak mentah negara-negara OPEC meningkat sebesar rata-rata 29,65 juta barel per hari.

Menurut laporan tersebut sayangnya juga terjadi penurunan produksi utama diperkirakan terjadi di Indonesia dan Norwegia.

Pada tahun 2023, perkiraan pertumbuhan produksi minyak mentah di negara non-OPEC sebesar 1,7 juta barel per hari.

Faktor utama pertumbuhan produksi minyak mentah di tahun 2023 diperkirakan karena peningkatan produksi di AS, Norwegia, Brasil, Kanada, dan Guyana, sedangkan penurunan produksi diproyeksikan terjadi di Rusia dan Azerbaijan.

Namun, kekhawatiran geopolitik dan ketidakpastian di negara produsen serta tingginya nilai tukar dolar AS menjadi konsen bagi para anggota OPEC dan produsen minyak lainnya.

Perang Rusia-Ukraina menjadi faktor penentu dinamika industri migas global. Mengingat Rusia merupakan salah satu produsen terbesar minyak mentah.

Sejak dimulainya perang, ekspor minyak mentah dan produk minyak Rusia ke Eropa, AS, Jepang, dan Korea telah turun hampir 2,2 juta barel per hari. (Lihat tabel di bawah ini.)

Juga terjadi pengalihan rute pengiriman minyak ke India, Cina, Turki, ditambah dengan konsumsi domestik Rusia yang lebih tinggi semenjak pecahnya perang.

Pada Juli lalu, produksi minyak Rusia hanya 310 ribu barel per hari, lebih rendah dibandingkan sebelum perang. Sementara total ekspor minyak turun hanya 580 ribu barel per hari.

Download Aplikasi IDX Channel
8750
226
6025
4470
650
193
0
7150
760
8500
167
3910
296
2400
620
0
100
104
250
0
143
0
50
1700
1375
328
680
286
396
178
Market Watch

Last updated : 2022/09/27Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes

IDX30

537.62

-0.34%
-1.81
IHSG

7112.45

-0.21%
-15.05
LQ45

1015.98

-0.41%
-4.21
HSI

17860.31

0.03%
+5.17
N225

26571.87

0.53%
+140.32
NYSE

0.00

-100%
-13797.00
Kurs

HKD/IDR 1,925
USD/IDR 15,125
Emas

794,741
/ gram
arrow_back
arrow_forward

Harga Minyak Anjlok ke USD77 per Barel, Masih Bisa Lebih Murah?

ECONOMICS

Maulina Ulfa – Riset

Selasa, 27 September 2022 16:30 WIB
Kurs dolar yang tinggi mengurangi permintaan minyak dengan membuat bahan bakar menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Harga Minyak Anjlok ke USD77 per Barel, Masih Bisa Lebih Murah? (Foto: MNC Media)

Harga Minyak Anjlok ke USD77 per Barel, Masih Bisa Lebih Murah? (Foto: MNC Media)

Di samping itu, embargo Uni Eropa terhadap minyak mentah dan impor produk Rusia yang mulai berlaku penuh pada Februari 2023. Kondisi ini diperkirakan akan menghasilkan penurunan produksi minyak lebih lanjut. Implikasinya, sekitar 1 juta hingga 1,3 juta barel per hari minyak mentah harus mencari rumah baru.

Waspada Resesi Global

Sementara itu, harga minyak diproyeksi akan tetap melemah imbas kondisi perekonomian global yang kian lesu. Tren kenaikan suku bunga terjadi di beberapa bank sentral setelah Federal Reserve AS menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada Rabu (22/9/2022). Langkah hawkish The Fed ini yang meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global.

Dalam laporan terbarunya, Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengatakan, perang Rusia di Ukraina masih akan memiliki dampak yang lebih besar pada ekonomi global dari yang diperkirakan sebelumnya.

OECD telah memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,2 persen pada 2023 dari perkiraan sebelumnya 2,8 persen pada 26 September kemarin.

“Ekonomi dunia membayar harga tinggi untuk perang agresi Rusia yang tidak beralasan, tidak dapat dibenarkan, dan ilegal terhadap Ukraina,” kata OECD dalam laporannya.

“Dengan dampak pandemi COVID-19 yang masih ada, perang menyeret pertumbuhan dan memberi tekanan tambahan pada harga, terutama untuk makanan dan energi. PDB global mengalami stagnasi pada kuartal kedua tahun 2022 dan output menurun di ekonomi G20,” tambahnya.

Laporan tersebut mengatakan bahwa inflasi yang tinggi bertahan lebih lama dari yang diperkirakan. Di banyak negara, inflasi pada paruh pertama tahun 2022 berada pada level tertinggi sejak tahun 1980-an.

Imbas kenaikan suku bunga ini membuat dolar AS semakin menguat. Dolar AS berada pada penutupan tertinggi terhadap mata uang lainnya sejak Mei 2002. Bukan tidak mungkin jika kurs dolar yang tinggi memangkas proyeksi permintaan minyak dengan membuat bahan bakar menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. (ADF)

Share.