Hari Jadi Pertambangan Ke-76 Pertambangan dan Energi: Kontribusi Sektor ESDM Capai Rp141 Triliun

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hari ini, Selasa (28/9) menarik Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-76, dengan tema “Energi Tumbuh, Energi Tangguh”. Sejalan dengan tema tersebut, kontribusi dan pertumbuhan sektor ESDM pun terus positif, di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang mulai terkendali. Kinerja sektor ESDM meningkat dan menunjukkan peningkatan dengan kebijakan dan strategi capaian yang.

Hingga Juli 2021, kontribusi sektor ESDM terhadap penerimaan negara menunjukkan hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020.

“Hingga Juli tahun ini, kontribusi sektor ESDM dalam penerimaan negara mencapai Rp141 triliun atau lebih tinggi 103% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan investasi ESDM telah mencapai lebih dari USD12 miliar,” ujar Menteri ESDM Arifin Tasrif pada Upacara Peringatan Hari Jadi Pertambangan ke -76 yang dilaksanakan secara virtual.

Di subsektor migas, imbuh Arifin, selain mengubah skema kontrak bagi hasil menjadi lebih fleksibel, Pemerintah juga memberikan berbagai macam insentif untuk menarik investasi. Selain itu, Program BBM Satu Harga yang langsung dengan masyarakat juga terus dilaksanakan dan menargetkan lebih dari 580 titik hingga tahun 2024.

“Di bidang migas, kontrak bagi hasil migas telah dibuat lebih fleksibel yaitu skema gross split atau cost recovery. Untuk lebih menarik investasi hulu migas, berbagai insentif telah diberikan, antara lain untuk Blok Mahakam. Pada bulan Agustus 2021, Blok Migas Rokan, salah satu blok migas terbesar di Indonesia juga secara resmi telah dikelola oleh Negara melalui Pertamina,” jelasnya.

Kementerian ESDM juga mengeluarkan kebijakan untuk memberikan pemanfaatan batubara untuk menjaga ketahanan energi domestik, khususnya pada pembangkit listrik. “Kebijakan pemanfaatan mineral diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah, terutama nikel sebagai salah satu bahan pendukung baterai,” lanjut Arifin.

Di bidang ketenagalistrikan, pemerataan akses listrik masih menjadi fokus utama Kementerian ESDM. “Saat ini, rasio elektrifikasi telah mencapai 99,4%, dan tahun depan yang ditargetkan seluruh rumah tangga telah teraliri listrik 100%,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Arifin kembali menambahkan bahwa Kementerian ESDM telah menyusun Grand Strategy Energy Nasional (GSEN) yang diharapkan mampu menghasilkan solusi untuk ketahanan dan kemandirian energi nasional.

“GSEN juga diharapkan dapat menjadi jawaban dari tantangan yang saat ini dihadapi, antara lain keterbatasan pengembangan EBT dan pembangunan infrastruktur yang lebih masif dan tepat,” tambah Arifin.

Pada Grand Strategy Energy, telah dipetakan rencana untuk meningkatkan kapasitas pembangkit EBT sebesar 38 GW sampai tahun 2035 melalui upaya percepatan substitusi energi primer, konversi energi primer fosil, peningkatan kapasitas EBT dan pemanfaatan EBT non listrik/non BBN.

“Untuk mencapai target tersebut, Pemerintah memprioritaskan pengembangan energi surya karena biaya investasi yang semakin rendah dan waktu pelaksanaan yang semakin singkat,” ujarnya.

Program-program tersebut, mendukung transformasi target energi menuju Net Zero Emission (NZE) yang menjadi komitmen bersama untuk mencapai paling lambat pada tahun 2060 atau bisa lebih cepat lagi dengan bantuan internasional.

“Pemilihan teknologi menjadi pertimbangan utama untuk memastikan ketersediaan rendah, keterjangkauan, keberlangsungan dan daya saing untuk kemandirian energi, ketahanan energi, ketahanan energi, serta ketahanan iklim dan karbon,” tutupnya. (DKD)

Share.