Sumitomo Lepas Aset PLTU Tanjung Jati B, Bakal Pensiun Dini?

Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan setrum asal Jepang, Sumitomo Corporatioan diketahui telah menyepakati rencana pelepasan dini aset pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara Tanjung Jati B 1-4. Pelepasan dini aset tersebut ditandai dengan penandatanganan Principles Agreement bersama dengan PT PLN (Persero).

Dalam siaran tertulis yang diterima CNBC Indonesia, Kamis (24/11/2022) disebutkan bahwa: Sumitomo Corporation berencana untuk melakukan pelepasan dini aset PLTU Tanjung Jati B Unit 1-4 dan perusahaan akan mengembangkan PLTA Kayan berkapasitas 9.000 MW.

Pelepasan dini PLTU Tanjung Jati B dan pengembangan PLTA Kayan dilakukan sebagai langkah mendukung percepatan dekarbonisasi, penyediaan tenaga listrik dengan tarif yang lebih rendah dari BPP, dan mendorong investasi energi bersih.

Jepang menyampaikan apresiasi atas kerja sama antara PT PLN (Persero) dengan Sumitomo Corporation yang ditandai dengan penandatanganan Principles Agreement tentang pelepasan dini aset PLTU Tanjung Jati B Unit 1-4 dan pengembangan PLTA Kayan pada saat KTT G20 di Bali yang lalu,” ungkap Biro Komunikasi, Layanan Informasi, dan Persidangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto, Dikutip Kamis (24/11/2022).

Seperti yang diketahui sebelumnya, di Bali beberapa waktu yang lalu juga dibahas mengenai rencana pensiun dini PLTU Cirebon-1 dengan kapasitas 660 MW. MoU terkait hal ini telah ditandatangani oleh PT. PLN, ADB dan PT. Cirebon Electric Power.

Jepang dan Indonesia diklaim sepakat untuk menjadi inisiator dalam mewujudkan konsep Asia Zero Emission Community (AZEC). Hal ini juga merupakan kesepakatan kedua kepala negara, Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri (PM) Jepang Fumio Kishida dalam pertemuan bilateral pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali tanggal 14 November 2022.

ADVERTISEMENT

Sumitomo Lepas Aset PLTU Tanjung Jati B, Bakal Pensiun Dini?

pgr, CNBC Indonesia
NEWS
24 November 2022 17:11
PLTU Tanjung Jati B (Dok. PLN)

Foto: PLTU Tanjung Jati B (Dok. PLN)

Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan setrum asal Jepang, Sumitomo Corporatioan diketahui telah menyepakati rencana pelepasan dini aset pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara Tanjung Jati B 1-4. Pelepasan dini aset tersebut ditandai dengan penandatanganan Principles Agreement bersama dengan PT PLN (Persero).

Dalam siaran tertulis yang diterima CNBC Indonesia, Kamis (24/11/2022) disebutkan bahwa: Sumitomo Corporation berencana untuk melakukan pelepasan dini aset PLTU Tanjung Jati B Unit 1-4 dan perusahaan akan mengembangkan PLTA Kayan berkapasitas 9.000 MW.

Advertisement

Pelepasan dini PLTU Tanjung Jati B dan pengembangan PLTA Kayan dilakukan sebagai langkah mendukung percepatan dekarbonisasi, penyediaan tenaga listrik dengan tarif yang lebih rendah dari BPP, dan mendorong investasi energi bersih.

“Jepang menyampaikan apresiasi atas kerja sama antara PT PLN (Persero) dengan Sumitomo Corporation yang ditandai dengan penandatanganan Principles Agreement tentang pelepasan dini aset PLTU Tanjung Jati B Unit 1-4 dan pengembangan PLTA Kayan pada saat KTT G20 di Bali yang lalu,” ungkap Biro Komunikasi, Layanan Informasi, dan Persidangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto, Dikutip Kamis (24/11/2022).

Seperti yang diketahui sebelumnya, di Bali beberapa waktu yang lalu juga dibahas mengenai rencana pensiun dini PLTU Cirebon-1 dengan kapasitas 660 MW. MoU terkait hal ini telah ditandatangani oleh PT. PLN, ADB dan PT. Cirebon Electric Power.

Jepang dan Indonesia diklaim sepakat untuk menjadi inisiator dalam mewujudkan konsep Asia Zero Emission Community (AZEC). Hal ini juga merupakan kesepakatan kedua kepala negara, Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri (PM) Jepang Fumio Kishida dalam pertemuan bilateral pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali tanggal 14 November 2022.

Melalui inisiatif AZEC ini, Indonesia mendapatkan prioritas pertama pendanaan sebesar US$ 500 juta untuk mengimplementasikan program transisi energi dan memperluas kerja sama serta inisiatif dekarbonisasi publik-swasta.

Inisiatif AZEC didasari kedua negara meyakini bahwa Asia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi global akan menjadi motor penggerak perekonomian dunia sekaligus model kerja sama dalam mewujudkan proses transisi energi yang rasional, berkelanjutan, dan berkeadilan dengan tetap mempertimbangkan kondisi nasional yang berbeda.

Kedua negara juga meyakini keamanan pasokan, keterjangkauan, dan people-oriented adalah kunci utama dalam proses transisi energi untuk mencapai tujuan Net Zero Emission yang memungkinkan Asia dapat memimpin proses transisi energi global tanpa mengorbankan pembangunan ekonomi.

“Jepang dan Indonesia memiliki kepedulian yang sama bahwa energi dan ekonomi harus bekerja sama untuk mencapai kemakmuran dengan menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan mengubah energi menuju netralitas karbon/emisi nol bersih,”

Share.