Ini Tantangan Pengembangan Energi Baru Terbarukan

JAKARTA – Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengakui salah satu kendala pengembangan energi baru terbarukan adalah masih terbatasnya ketersediaan dana murah/soft loan di dalam negeri.

“Ketersediaan dana murah/soft loan di dalam negeri masih terbatas,” ujar Rida di Jakarta, Rabu (25/4).

Dia juga menyebutkan, selain masih terbatasnya ketersediaan dana murah, diantaranya juga masih diperlukan sosialisasi dan edukasi yang sistematis dan berkesinambungan untuk
meminimalisasi resistensi masyarakat terhadap proyek PLT berbasis EBT.

Kondisi pasokan listrik yang bersifat intermittent (PLTS & PLTB) belum didukung ketersediaan teknologi smart grid. Belum banyak badan usaha tertarik investasi di Indonesia Timur;salah satunya keterbatasan infrastruktur pendukung.

Ketergantungan terhadap teknologi dan peralatan EBT dari luar negeri masih tinggi.

Sebab itu, kata dia, beberapa strategi percepatan yang disiapkan diantaranya:

  1. Prioritas pengembangan panas bumi, hidro, bioenergi, surya dan angin;
  2. Penyediaan insentif fiskal dan non-fiscal;
  3. Peraturan Menteri No. 38/2016 tentang Percepatan Elektrifikasi di Perdesaan yang Belum berkembang, Terpencil, Perbatasan dan Pulau Kecil Berpenduduk melalui Pelaksanaan Penyediaan Tenaga Listrik untuk Skala Kecil;
  4. Penugasan kepada Badan Usaha Milik Negara dan Badan Layanan Umum;
  5. Fasilitasi private-PLN;
  6. Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) sebagai program pra-elektrifikasi.

(Sunandar) 

Share.