Wika Ekspansi Bisnis ke Sektor Tambang

Republika, Jakarta – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk berencana ekspansi bisnis ke smelter nikel pada 2022.  Emiten berkode saham WIKA itu akan berfokus pada sektor industri serta metal dan tambang.

Direktur Utama Wika Agung Budi Waskito mengatakan, ekspansi ke sektor tambang tak lepas dari model klaster yang ditetapkam Kementerian Badan Usaha Milik negara (BUMN) disetiap perusahaan pelat merah, termasuk sejumlah BUMN yang bergerak dibidang konstruksi atau karya. Wika akan berinvestasi di smelter nikel.

“Kedepan BUMN karya akan dibuat klaster. Wika karena ada keunggulan dibidang metal, tambang dan industri sehingga 40 persen pendapatan perseroan kedepan itu dari industri, metal dan tambang,” kata Agung dalam webinar bertajuk “Mengukur Infrastruktur” di Jakarta, Rabu (14/4).

Agung mengatakan, saat ini Wika menjadi leading dalam pembangunan smelter nikel. Wika melihat investasi pada smelter nikel tersebut penting untuk kedepannya karena Wika memproduksi motor listrik Gesits yang komponen utamanya adalah baterai yang hingga sekarang masih impor.

Sedangkan, baterai kendaraan listrik yang ada di Indonesia nantinya kan dikelola oleh konsorsium Indonesia Battery Corporation.  Wika sendiri nantinyaakan berpartisipasi seperti dalam perakitan dan penggabungan komponen baterainya.

Wika juga berencana untuk melakukan aksi korporasi pada 2024, yakni melakukan tranformasi PT Wijaya Karya Rekayasa Konstruksi atau WRK menjadi Wika Energi dan assembling baterai.

“Pada 2024 nanti Wika akan mentransformasikan PT Wijaya Karya Rekayasa Konstruksi atau WRK menjadi Wika Energi. Kemudian kita juga pada 2024 akan melakukan assembling untuk baterai,” kata Agung.

Sebelumnya, PT Ceria Metalindo Indonesia (CMI), anak entitas PT Ceria Nugraha Indotama (CNI), menandatangani kontrak kerja sama dengan Wika untuk mengerjakan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian atau smelter nikel di Wolo, Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Proyek pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian nikel dalam pengoperasiannya kelak akan menggunakan rute rotary kiln-electric furnace yang sudah etrbukti untuk mengolah bijih nikel kada 1,59 persen Ni menjadi ferinikel dengan kadar 22 persen.

Meski berekspansi ke sektor tambang, Agung mengatakan, Wika tetap menggarap pasar residential dan komersil, seaport, hingga lewat anak usaha lain seperti Wika Realty. termasuk dengan proyek penugasan pemerintah dibidang jalan, bangunan, dan bendungan.

Agung menyebutkan, sejumlah rencana tersebut merupakan bagian perusahaan dalam menghadapi situasi pandemi Covid-19 dengan mempersiapkan inovasi operasional, investasi quickwin, dan digitalisasi.

“Tujuan kita nanti saat semua sudah normal, kita menjadi salah satu perusahaan yang paling siap dengan keuangan dan profit yang baik,” ujar Agung.

Agung mengatakan Wika tak hanya bergerak di sektor infrastruktur dan gedung, melainkan juga pada sektor energi dan industri plant serta operasi luar negeri. Wika berkomitmen mengerjakan proyek pemerintahyang kental dengan unsur teknologi dan inovasi seperti proyek mass rapid transit (MRT), light rail transit (LRT), kereta cepat, dan layanan pengangkutan penumpang bandara.

“Kita juga membangun bangun 32 pelabuhan di Indonesia. Untuk pembangkit listrik, Wika sudah membangun 14 ribu megawatt (MW) atau sekitar 21 persen,” kata Agung.

Selain domestik, Agung melanjutkan . Wika juga melakukan sejumlah aktifitas bisnis di sejumlah negara di Afrika. Begitu juga negara di lingkup Asia seperti Filipina hingga Taiwan.

Share.